Menghadapi “Krisis Biaya Hidup”: Mengapa Remaja Tidak Boleh Tabu Bicara Inflas

Daftar Isi

Menghadapi “Krisis Biaya Hidup”: Mengapa Remaja Tidak Boleh Tabu Bicara Inflas

Selama ini, ada sebuah stigma tidak tertulis bahwa urusan ekonomi makro seperti inflasi, kenaikan harga bahan pokok, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga suku bunga bank adalah urusan orang dewasa, pengamat ekonomi, atau orang tua yang berputar ke dapur rumah tangga. Remaja atau pelajar sering kali dianggap belum waktunya atau tidak perlu memikirkan hal-hal berat tersebut, selama tugas utama mereka adalah belajar.

Namun, saya beropini bahwa mengisolasi remaja dari kenyataan ekonomi seperti inflasi adalah sebuah kekeliruan besar. Faktanya, inflasi tidak memilih umur. Ketika harga barang-barang naik dan daya beli mata uang menurun, dampaknya langsung terasa pada kehidupan sehari-hari pelajar; mulai dari harga kuota internet yang diam-diam naik, berkurangnya porsi makanan di kantin sekolah dengan harga yang sama (shrinkflation), hingga melonjaknya biaya transportasi umum. Lebih jauh lagi, inflasi ini berdampak langsung pada perencanaan masa depan kita, seperti biaya kuliah yang semakin mahal setiap tahunnya.

Oleh karena itu, remaja tidak boleh tabu lagi dalam membicarakan masalah keuangan dan inflasi. Diskusi mengenai kondisi ekonomi harus mulai dinormalisasi, baik di meja makan bersama keluarga, dalam forum organisasi sekolah, maupun saat nongkrong bersama teman-teman. Remaja yang melek terhadap isu ekonomi makro sejak dini tidak akan kaget ketika terjun ke masyarakat nantinya. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih siap secara mental, lebih bijak dalam mengerem sifat konsumtif, dan lebih kreatif dalam mencari peluang atau solusi finansial, dari sekedar pasrah menerima keadaan ekonomi yang terus berubah.

Posting Komentar